Grow UP

Saya pernah menjadi seorang philo-sophia.

Saya pernah mencintai buku, mengagumi orang yang dipenuhi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan.

Saya pernah menyukai diskusi ilmiah, mengikuti perkembangan penemuan, menikmati sastra klasik.

Sampai pada titik dimana saya mencintai seorang pria dengan semua kebalikan yang ada pada saya.

Ia menyukai keramaian, ia menyukai musik, ia senang berada dalam gerombolan, membahas berbagai hal yang seru dan kehidupan sehari-hari. Ia mengikuti politik, ia memahami karakter, ia terlibat dalam berbagai intrik maupun lobi-lobi.

Dunianya ramai. Dunia saya senyap.

Sampai kemudian saya mempertanyakan apa dunia yang saya miliki ini adalah salah. Sampai saya ragu dengan nilai yang selama ini saya pegang, orang-orang yang saya andalkan, idealisme yang saya bangun sendiri.

henry-be-99471

Kemudian kami berpisah, kemudian ia menemukan seorang kekasih. Wanita ramai sepertinya. Saat itu saya rasa memang demikianlah terbaik adanya. Namun, di satu sisi, saya tidak dapat berhenti menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan diri yang tidak bisa seperti apa yang ia kehendaki. Menyalahkan diri dengan semua kebisuan yang kami bangun saat kami bersama, kekecewaan, pertanyaan, harapan yang saya pendam terhadap dirinya (dan mungkin pula sebaliknya).

Sampai kemudian, saya menyadari…

Tidak ada yang salah pada dirinya.

Demikian pula tidak ada yang salah pada diri saya.

Semua orang memiliki warnanya masing-masing. Ada yang berpadanan, ada yang berseberangan. Cintailah warnamu, belajarlah mencintai warna lainnya, dan apresiasilah sosok yang kelak mencintai warnamu. Memahami keindahan di balik warna yang kontras itu…. sesuatu yang baru di hidup saya. Dahulu saya berpikir, apabila saya mengulang kejadian, apabila ada kesempatan kedua, semua akan lebih baik. Sekarang saya berpikir, memang demikianlah proses yang harus saya lalui (ditengah minimnya pengalaman saya) untuk mengubah saya. Saya merefleksikan ulang semua tindakan saya dahulu, dan saya mengingat bahwa ketika saya mengambil keputusan atau bereaksi saat itu, semua berdasarkan pemahaman saya (atau  bisa jadi reaksi emosional saya) yang masih sempit. Dalam pertumbuhan ini, saya telah memahami apa yang harus saya lakukan, dan sudah tidak ada lagi “seandainya-niscaya”. Saya harus terus bergerak maju, karena semua proses adalah suatu kesatuan, dirangkai indah dalam hidup saya oleh Tuhan, biar saya memahami, dan menikmati hidup yang dianugerahkanNya.

Puji Tuhan!

Ezekiel 36:26 (NLT)

And I will give you a new heart, and I will put a new spirit in you. I will take out your stony, stubborn heart and give you a tender, responsive heart

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s