A Call to Remember

Hari ini saya mendapat telepon istimewa. Telepon itu ingetin saya akan satu hal yang pernah terlintas di benak saya. Tentang kehidupan yang tidak sempurna, namun tidak kekurangan apa-apa…

Sebelum ceritain tetang telepon istimewa ini, saya ingin flashback dikit. Jadi, sebelumnya saya juga sempat hampir memposting sebuah tulisan tetang kesederhanaan hidup seorang pemulung bernama Pak Yoseph (namun tidak jadi karena sibuk sendiri dan akhirnya inspirasi tersebut menguap, heuheu). Kisah hidup Pak Yoseph ini ditayangkan di Kick Andy pada tanggal 21 Juli lalu. Jadi ceritanya, Pak Yoseph ini adalah seorang bapak yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Beliau bekerja sebagai pemulung. Menariknya, sekalipun beliau melakoni pekerjaan, yang mungkin bagi sebagian orang kurang layak dan jauh dari kata cukup, beliau berhasil mendirikan PAUD dan SMP dari biayanya sendiri! Adanya PAUD dan SMP tersebut dilatarbelakangi atas rasa prihatin Pak Yoseph melihat anak-anak di kampungnya yang main di jalanan dan tidak sekolah. Tentu perjalanan untuk mendirikan PAUD dan SMP itu gak mudah. Kita gak bisa bayangin bahwa PAUD dan SMP itu juga sudah merupakan sekolah yang layak, karena faktanya beliau masih menyewa gedung untuk tempat mendirikan PAUD dan SMP tersebut. Bahkan menurut penuturan beliau dan isteri, mereka sampai menggadaikan rumahnya! Hal menarik lainnya adalah bahwa selain berjuang untuk pendidikan anak-anak di lingkungannya, beliau juga berjuang untuk pendidikannya sendiri. Di usia yang gak muda lagi, sudah punya enam anak (dan anak tertuanya juga tengah kuliah) beliau memutuskan buat kuliah lagi dan (Puji Tuhan) berhasil menjadi sarjana tahun ini 🙂 Inspiratif banget kan! Di usianya yang udah gak muda, di tengah kondisi perekonomian yang pas-pasan, he has BIG DREAMS, AND ACCOMPLISH IT! Berapa banyak yang seberani se-beriman itu?

Sekarang kembali ke telepon. Saya hari ini mendapat telepon dari seorang teman dari Desa Sukandebi. Ada yang tahu Desa Sukandebi dimana? Emang gak terkenal sih, desanya. Desa Sukandebi terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Setahun yang lalu, saya beserta temen-temen dari berbagai fakultas di Univ. tempat saya mengenyam pendidikan melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang merupakan mata kuliah wajib di universitas kami. Kami memilih untuk mengabdi di tanah Karo, dan saya rasa pengalaman di sana gak mungkin bisa saya lupain. Saya sampai buat sebuah buku (sejujurnya untuk tugas laporan akhir tim KKN sih, hehehe) mengenai pengalaman saya, suatu saat .pdf nya bakal saya share di blog ini (kalo saya lupa ingetin saya yah!). Di sana saya belajar tentang arti kehidupan di pedesaan. Gimana mereka sejak kecil udah bantu orangtua dari ngasuh adik sampai angkat air, turun ke ladang, hidup susah (listrik sudah masuk di desa itu, namun air untuk mandi hanya didapat di pemandian umum, sehingga kalau mandi harus ke pemandian umum, men!), sampai bertahan hidup dengan kondisi Gunung Sinabung yang selalu ‘batuk-batuk’ abu vulkanik (yes, tempat saya KKN dekeeeettt banget dengan Gunung Sinabung. Fyi, Gunung Sinabung itu hampir tiap hari erupsi… jadi, bisa dibayangkan gimana ekstremnya saya ber-KKN disana kan?). Teman yang menelpon saya adalah seorang gadis kecil bernama Lona yang sering banget bantu saya selama KKN di Desa Sukandebi. Mulai dari angkat air yang ditampung di jerigen dan dibawa pake gerobak sorong (ada yang ga tau gerobak sorong itu apa, coba searching di google!), bantuin nyuci piring, masak, hingga nemenin jalan-jalan liat perkebunan di desa. Sedikit cerita seru nih soal jalan-jalan di kebun desa. Biasanya, pulang-pulang dari kebun, kami selalu dapet oleh-oleh sayur mayur dari penduduk desa. Kadang kami ditawari kubis dan kembang kol, kadang kami diperbolehkan mengambil wortel dan kentang sisa panen yang sengaja ditinggalkan di kebun (dan sekarang saat saya jadi tau kalo itu Perintah Tuhan, loh, coba cek deh Imamat 19:9-10), kadang dianter sendiri hasil panen mereka ke pondokan kami. Bahagia banget rasanyaaaaa, mana enak banget lagi makan di daerah dingin kayak di Desa Sukandebi (saya nambah 2 kg balik dari tempat KKN, hehehe). Nah, jadi saya sohib banget lah sama si adek ini. Tapi ya gitu, setahun udah berlalu, saya juga udah ga pernah hubungin dia lagi. Terakhir saya dapet kabar dari facebook, anak gadis Pak Kepala Desa sebentar lagi akan menikah. Tapi ya, itu saja. Makanya saya kaget dengar suara familiar dari telepon dengan nomor yang tidak dikenal tadi siang. Telponnya gak lama, cuma sekita 6 menitan (gara-gara sinyal jelek). Enam menit yang membahagiakan, mendapat kabar dari gadis kecil yang udah saya anggap kayak adik sendiri. Enam menit yang ingetin saya tentang kenangan di Sukandebi, tentang gimana saya nangis pas perjalanan balik karena gak tau apakah kelak Tuhan kasih kesempatan buat ketemu mereka lagi. Enam menit buat refleksi tentang arti hidup saya selama ini.

Mungkin ciwi-ciwi pada bertanya-tanya, apa hubungannya Pak Joseph dengan gadis kecil bernama Lona ini? Saya nemuin kondisi yang ‘sama’.

1. Sama-sama hidup susah;

2. Sama-sama tau sekalipun susah, hidup harus dijalani dengan sepenuh hati, bahkan jadi berkat bagi orang lain.

Saya gak kenal secara pribadi dengan Pak Yoseph, namun saya cukup kenal dengan Lona (selama 50 hari masa KKN). Lona masih kelas 5 SD, gak punya gadget kece, kerjanya main sama kawan-kawan sedesa (generasi 90-an pasti tau lah mainan mereka: ABCD, Pancasila lima dasar, lompat tali, BP-BPan, etc), bantu ortunya di rumah (nyuci baju, nyuci piring, ngurus adik), sekolah (keren lah, dia masuk 3 besar di sekolahnya 🙂 ). Orangtuanya, sama kayak orangtua lain di Desa Sukandebi, pekerjaannya berladang. Penghasilan sama tenaga yang dikeluarin gak sebanding, jelas. Beda lah dengan cita-cita anak jaman sekarang (termasuk saya) yang pengennya kerja di ruangan ber-AC, gak capek dan keringetan, liat layar computer sambil sesekali main solitaire kalo gaada kerjaan. Hidup Lona susah (mandi aja susah), tapi dia tetep happy aja tuh. No galau-galau. No pacaran-pacaran ala anak SD jaman sekarang yang hobi selfie dan panggil mami-papi. Cita-citanya: kuliah di tempat Kak Monic! (Amiiinn). Pak Yoseph juga, hidupnya pasti susah. Kayak yang saya bilang, gak sebanding tenaga sama penghasilannya. Cuma beliau gak mengasihani diri sendiri (disaat mungkin ada yang memandang sebelah mata atau mengasihani kehidupannya). Beliau berjuang! Saya jadi inget Firman Tuhan di Pengkhotbah 5:17 bilang gini:

“Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya.”

Hidup yang gak sempurna, tapi gak kekurangan apa-apa. Hidup yang berkelimpahan di dalam Tuhan, melakoninya sesuai dengan bagian yang Tuhan tentukan. Saya selalu bersyukur kalo inget Lona, inget kebaikannya, inget pertolongan dan juga kepeduliannya sama saya sampai saat ini. Gadis kecil itu bahkan berinisiatif menghubungi saya duluan! Saya jadi malu kalo inget masih ngeluh dengan kekurangan-kekurangan yang ada, masih kurang bersyukur dengan berkat Tuhan, masih setengah hati ngerjain banyak hal. Saya juga yakin orang-orang di sekitar Pak Yoseph, anak-anak di sekolah yang beliau dirikan, semuanya punya rasa syukur buat kehadiran sosoknya. Bisa jadi nyala api yang bersinar terang, sekalipun angin kencang bertiup dari berbagai penjuru…

Tuhan Yesus pernah ingetin kita biar gak kuatir, karena sama burung-burung di langit dan bunga bakung di ladang Tuhan itu care, Tuhan itu peduli. Apalagi sama kita, ya kan? (Matius 6:25-33). Jujur aja, saya cukup kuatir dengan kondisi saya sebagai jobseeker saat ini. Kapan saya dapet kerja? Gimana nanti penghasilannya? Cukup gak buat hidup, buat nabung, buat bangun masa depan? Tapi hari ini saya diingetin lagi sama Tuhan, buat bersyukur dengan keberadaan dan kepedulian orang-orang di sekitar saya, buat hidup dengan sukacita ditengah kondisi saya saat ini, dan yang terpenting, untuk memiliki cita-cita yang lebih tinggi dari sekadar “kebutuhan diri saya sendiri”. Tuhan pasti mencukupkan kok, Tuhan pasti menyediakan. Yang saya butuhin (dan temen-temen lain yang sedang baca tulisan ini juga butuhin) adalah kesediaan buat dituntun oleh Tuhan, berjalan di dalam visi Tuhan, meninggalkan ke-aku-an kita buat dipakai seturut rencana Tuhan. Yuk, sama-sama berdoa buat hal ini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s