Falling in Love: Personal Experience

Pernahkah gak bertanya-tanya, mengapa ada istilah ‘jatuh’ dalam cinta? Saya sering membayangkan cinta sebagai sebuah lubang besar yang menganga, yang dapat membuat orang yang tidak berhati-hati terperangkap di dalamnya. Aneh? Well, gak juga sih. Ada banyak banget contoh kan? Seseorang yang dengan alasan cinta meninggalkan Tuhan, ato terjerumus dalam pergaulan bebas, ato pacaran beda agama. Karena banyak banget kasus parah (ato jangan-jangan saya agak pesimis?), saya selalu hati-hati buat topik satu ini. Seberhati-hatinya saya, tetap saja, ada saat dimana saya jatuh.

StockSnap_QXEOM8VWXD

Ini pengalaman saya tentang jatuh cinta. Jatuh cinta pertama saya rasakan di bangku kuliah, di smester 3. Serius! Kamu mungkin mikir, “ah ngaco Menik, telat amat pubernya.” Tenang, saya pernah kasmaran, kok. Siapa yang gak seneng liat cowok ganteng, cowo jago main musik, ato si jenius di kelas? Tapi kayaknya saya baru menghitung perasaan bergetar aneh kayak kena sentrum di perut saat bertatapan atau tanpa sengaja bersentuhan dengannya itu sebagai cinta, ketika saya mulai menggumulkan perasaan itu dengan curhat ke Bapa. Terlibat dalam pelayanan dengan si doi, saya jadi mengenal pribadi doi. Doi gak pinter-pinter amat, tapi saya tahu dia pria yang mau berjuang dan gak egois. Yang pasti perasaan saya itu gak tumbuh sekejap kayak love in first sight ala novel anak SMA habisnya doi juga gak item manis, tinggi, cool, dan kutu buku seperti yang selama ini jadi tipikal saya sih, hahaha. First impression doi malah “ni anak kok heboh banget ya, ga bisa diam, mana suaranya ribut banget lagi, kadang sok asik sendiri”. Hahaha. Namun, ketika saya mengenal doi lebih dalam, semakin dalam saya mengasihinya. Kasihnya pada Tuhan, jiwa kepemimpinannya, kejujurannya dan bantuannya bikin saya merasa aman. Tapi lama-lama, saya takut. Kok bisa? Sabar, ini mau dijelasin, kok.

StockSnap_HB1CUEWMRS

 Mungkin saya perlu cerita background saya dulu. Saya lahir di keluarga Kristen, namun seperti pada umumnya, tidak serta merta saya deket sama Bapa. Perjumpaan pribadi saya dengan Tuhan dimulai di saat retreat yang diadakan Perkantas, saat saya masih kelas 1 SMA. Setelah itu saya ikut Kelompok Kecil di bawah naungan Perkantas, dan saya mulai rajin baca Firman, rajin Saat Teduh, pokoknya saya ngerasain banget deh jamahan Tuhan. Semenjak saya menjadikan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan juruselamat pribadi saya, saya juga jadi rajin membaca banyak buku rohani. Biar kuat dan teguh, gitu… hehehe. Salah satu buku yang sungguh memberkati saya adalah buku Lady In Waiting (I will talk and make review about this book in another time, karena buku ini beneran perlu dibaca kamu. Iya, kamu, cantik!). Setelah membacanya, saya komit sama Bapa kalo saya bakal berpacaran only if I ready for marriage. Saya menyeleksi pria yang hadir di hidup saya. Gak bertekun dalam Yesus, coret. Gak bertumbuh, coret. Gak berjiwa pemimpin, coret. Gak punya visi buat masa depannya, coret. Apalagi yang cuma bisa say “lagi ngapain? Udah makan belum, sibuk apa?”. Beuh… gak ah, gak main yang gituan, man!

Namun saat itu, saya belum ‘jatuh’.

Saya mulai menyadari bahwa ada perasaan yang berbeda ketika saya mulai mendoakan si doi lebih daripada teman lainnya. Saya doain pergumulan dia yang saya liat. Saya doain masa depan dia, rencana kedepannya. Saya doain perjuangan dia. Ingat saat Tuhan Yesus berkata “berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (liat Matius 5 ayat 44). Menurut kamu, kenapa Tuhan Yesus suruh kita doain dan bukan mengutuk? Bener, karena Tuhan Yesus mengajarkan kasih. Lebih dari itu, kalo kamu pernah mengalami sendiri mendoakan musuhmu orang yang pernah menyakiti hati kamu, kamu bakal sadar kalo kamu gak bisa sungguh-sungguh mendoakan sambil tetap membencinya. Kasih tumbuh ketika kita doain orang lain. Kepedulian tumbuh ketika kita doain orang lain. Nah, kalo setelah doain orang yang nyakitin hati aja bisa bikin kita jadi adem, apalagi dengan orang yang kita suka, ya kan? Makin semakin lah jatuhnya…

Padahal saya udah komit.

Padahal saya udah janji gak mau dahuluin rencana Bapa buat saya.

Padahal saya sadar masih belum saatnya, saya belum siap dari sisi manapun.

Hal-hal inilah yang membuat saya takut.

StockSnap_07V9SEDOGU

 Seringkali dalam doa saya kepada pria ini, saya bilang sama Bapa…

“Bapa, saya tahu kalau perasaan ini belum saatnya. Saya belum siap untuk pernikahan, baik dari segi fisik, usia, finansial maupun kematangan rohani. Saya tahu kalau kali ini ada yang berbeda dari perasaan-perasaan yang selama ini saya alami pada pria lainnya, yang dapat saya abaikan dengan mudah. Oleh karena itu, bantu saya untuk bersikap bijaksana ya Bapa. Bantu saya untuk mengasihinya dengan kasih persahabatan yang berasal daripadaMu”…
“Pa, mengapa perasaan ini begitu mendesak saya? Ambillah bila ini tidak berkenan padaMu ya Bapa. Saya tidak mau orang ini saya dahulukan lebih dari orang lain. Saya tidak ingin membangkitkan cinta sebelum waktunya. Bantu saya menyimpan kunci hati saya, Bapa”…

“Bapa, saya takut saya terlalu memikirkannya, mengandalkannya. Bukankah Engkau pernah berkata untuk jangan mengandalkan manusia?”…

“Bapa, saya tahu ia masih memikirkan mantannya. Saya tidak punya kuasa untuk mengubah perasaan seseorang, Bapa. Saya sadar kalau saya tidak boleh berharap lebih, saya percaya Engkau punya rencana yang indah buat saya dan dia. Berkati ia ya Bapa, berkati wanita yang menjadi ezer knegdo-nya. Biarkan kami hidup hanya dalam rencana dan rancanganMu”…

“Bapa, sepertinya ia menyukai gadis lain. Biarkanlah perkenananMu yang jadi atasnya. Saya bukan wanita yang baik, mungkin masih jauh dari tipe ideal dia. Saya percaya Engkau sudah menyiapkan yang terbaik buat kami. Jangan biarkan hati saya sedih terus seperti ini Bapa. Saya tahu ini cara si musuh untuk merampas sukacitaMu”…

“Bapa, saya merasa, saya bahkan bukan temannya, sahabatnya. Mungkin saya tidak punya hati yang cukup untuk tempatnya berbagi. Mungkin ia masih belum percaya pada saya, sehingga ia menceritakan hal-hal terdalamnya kepada orang lain. Saya hanya berharap yang terbaik buatnya, Bapa. Jangan biarkan saya kecewa. Bantu saya untuk memandangnya dengan kasih sahabat yang tulus”

“Bapa, saya tidak mau ia menjadi ilah dalam hidup saya, yang membuat saya memikirkannya lebih daripada saya memikirkanMu. Ampuni saya, Bapa.”

.

.

.

Doanya kayak hopeless banget gak? Ya, saya mencoba menyangkal diri. Bukan hal yang mudah, tentu. Seringkali doa-doa ini saya panjatkan hingga berurai air mata… Saya sadar saya lemah. Di satu sisi saya sayang, di sisi lain saya tau Tuhan mengajarkan hanya emosi “sayang” itu gak cukup. Kasih itu tindakan nyata, dan saya gak mau main-main dengan sebuah komitmen. “Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (liat Matius 26:41). Saya mencoba bersikap sebagaimana teman sama doi (sebisa saya, sekalipun dalam hal ini tampaknya saya jadi bersikap terlalu kaku, bahkan untuk seorang teman). Saya mencoba memahami perasaannya dan pilihan-pilihannya, tapi tetap aja cemburu sama orang yang saya kira dekat dengannya. Saya udah mencoba melupakan dan tidak menghubungi, namun sangat sulit. Saya mencoba menjajaki alternatif kemungkinan lain, dekat dengan pria lain, namun saya sadar itu adalah tindakan yang sia-sia (dan sama saja dengan  melukai perasaan pria lain, karena saya tetap merasa belum saatnya berpacaran dengan siapapun). Saya selalu menyangkal godaan teman-teman melihat betapa serasinya kami saat bersama, namun dalam hati saya terusik “apa iya?”.

Munafik?

Saya gak bakal nyalahin orang yang mikir gitu. Juju raja, kadang saya juga mau mikir “Apakah kamu gak terlalu keras terhadap diri sendiri, Nik? Standarmu ketinggian gak sih? Teman-temanmu gak gitu mikirin ini semua, dan mereka baik-baik aja tuh. Liat foto-foto instagramnya! Coba aja kali, pacaran sekali dua kali, jangan serius-serius amat lah… cowo juga langsung takut sih Nik kalo denger kamu niat pacaran buat nikah… namanya idup, kalo gagal, ya cari yang lain yang lebih baik…”

Tapi itu cuman di pikiran doang, hehehe.

pexels-photo-213316.jpeg

Karena setelah ngalamin pergumulan-pergumulan ini, saya sekarang sadar banyak hal. Saat saya doain doi, saya meletakkan kelemahan saya ke kaki Bapa. Saya belajar menggantungkan hidup hanya padaNya, bukan kepada diri saya sendiri ataupun pada doi. Saya diingatin kalo semua orang pernah nyakitin, ngecewain, dan salah. Bahkan biasanya orang-orang yang paling kita sayang yang bisa nimbulin luka dalam. Saya, doi, kita semua adalah manusia berdosa yang butuh Tuhan Yesus buat nyembuhin hati. Saya belajar buat berserah, letakin semua skenario romantis di kepala saya tentang doi kepada Bapa, mengakui kalau pikiran itu belum tentu jadi kehendakNya, dan mengakhiri setiap doa dengan “bukan kehendakku, melainkan kehendakMu jadilah”. Satu ayat yang saya dapet dari Lady In Waiting dan saya inget dalam masa-masa pergumulan itu: Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia (liat Mazmur 37:3). Saya udah janji sama Bapa buat kasih yang terbaik dari hati saya. Saya berjanji buat memilih berkomitmen sama orang yang tepat di waktu yang tepat, biar NamaNya dipermuliakan dan saya bisa beri kesaksian buat orang yang mengalami pergumulan yang sama dengan yang saya alamin. Saya tau rencana Tuhan itu indah buat saya, dan saya dalam masa penantian ini Bapa lagi ngebentuk saya sedemikian rupa, biar jadi bejana indah sesuai yang Ia mau.


Well, sampai tulisan ini dibuat, saya ga pacaran sama dia, ato sama siapapun. Saya masih berteman baik dengan semua orang. Jadi tulisan in emang gak happy ending, kalo kamu berharap kisah cintanya bakal berujung dengan tulisan happily ever after sama doi. Tapi saya happily ever after kok sejak kenal Pangeran saya, Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus emang gak pernah janjiin hidupmu jauh dari masalah, atau pasangan hidupmu bakal datang sendiri ngetok pintu rumahmu di waktu yang tepat. Tapi Tuhan Yesus selalu janji kalau Ia menyertai kita senantiasa (lihat Matius 28:20), Ia mengasihi dan mendoakan kita (liat Yohanes 17 deh, doa Tuhan Yesus indah banget!). Ia bahkan bilang ini:

“Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya sorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu (Yesaya 62:5).”

So sweet banget kan?

Terakhir, saya pengen share doa saya tadi malam (doa saya ke Bapa saat saya kembali menggumuli doi dan akhirnya mutusin buat nulis semua). Gini doa saya:

Tuhan, Monic gak tau siapa yang Engkau pilihkan buat Monic. Biar Tuhan simpan ia, jagai ia di dalam kasihMu dan biarlah ia semakin tumbuh di dalamMu saja sampai kami bertemu di waktu yang Engkau tentukan bagi kami. Biarlah kiranya kisah cinta kami kelak boleh seperti kisah cinta Ishak dan Ribka, kisah cinta Rut dan Boas. Kisah cinta yang memang Engkau rancang untuk kami, seturut dengan kehendakMu yang ajaib. Biarlah kami boleh melayani seperti Priskila dan Akwila, menjadi tumpangan bagi orang yang membutuhkan pertolongan kami. Jaga hati kami senantiasa agar mencintaiMu lebih dari apapun, sehingga selalu ada Engkau di antara kami.”

Semoga menguatkan ciwi-ciwi lain di belahan bumi manapun yang lagi berjuang buat taat dalam masalah percintaan ya. Percaya aja, Tuhan itu baik, Tuhan itu setia, dan jatuh cinta sama Dia adalah hal terindah yang bisa kamu alamin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s